Sabtu, 19 September 2015

Fathan Al Maisan

Pengertian Religius

Pengertian Religius

Adapun Kata Religi berasal dari bahasa latin. dalam hal ini ada beberapa pendapat;
1. Religi berasal dari kata Relegere yang mengandung arti mengumpulkan dan membaca. Penertian demikian itu juga sejalan dengan isi agama yang mengandung kumpulan cara-cara mengabdi kepada tuhan yang terkumpul dalam kitab suci yang harus dibaca.
2. Religi berasal dari religare yang berarti mengikat. Ajaran-ajaran agama memang mempunyai sifat mengikat bagi manusia. Dalam agama selanjutnya terdapat pula dari ikatan roh manusia dengan tuhan, dan agama lebih lanjut lagi memang mengikat manusia dengan Tuhan.
Dari beberapa definisi tersebut, akhirnya Harun Nasution menyimpulkan bahwa inti sari yang terkandung istilah-istilah di atas ialah ikatan. Agama memang menandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan ini mempunyai pengaruh besar sekali terhadap kehidupan manusia sehari-hari.Ikatan itu berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi dari manusia.

Sabtu, 19 April 2014

level kognisi

level kognisi:
1. tahu
2. faham
3. praktek
4. analisis
5. sintesia
6. evaluasi

pada umumnya، UN menggunakan tingkat tahu dan faham saja. tidak menggunakan esai (analisis). karena praktis dan ekonomis didapat menggunakan  pilihan ganda.

Rabu, 19 Maret 2014

Daftar kelompok team teaching

DAFTAR KELOMPOK PRAKTIKUM MIKRO TEACHING

Team I
Muslihatin
Dwi nofika sari
Nursahid

Team II
Ana LJ
Sugiati
Suharno

Team III
Zaenul wafa
Umi Shodriyah
Nur Sholihah

Team IV
Jasamiatun
M Shoikul Huda
Masa’amah

Team V
M Faisol Sujadi
Sri Sulistiyaningsih (KST)
Jumiatun (KST)

Team VI
Fika Niken N
Imam Sahroni
Zuliana N A

Team VII
Syafa’atul hidayah (KST)
Sulistiyani
Nurhalimah

Team VIII
Siti Mar’atus Sy
Rofiatun
Supriyadi

Team IX
Ahmad Sutiyanto
Uswatun Hasanah (KST)
Uswatun Hasanah

Team X
Ahmad Yasin
Siti Inaroh
Ahmad Syaifuddin

Team XI
Muh Ridwan
Habib Umar

Daftar kelompok pengembangan evaluasi PAI

DAFTAR KELOMPOK PENGEMBANGAN EVALUASI PAI

Pengertian, ruanglingkup, dan fungsi evaluasi PAI
Mas’amah
Sugiati
Umi shodriyah

Evaluasi hasil belajar
Ahmad yasin
Suharno
Uswatun hasanah

Ragam evaluasi hasil belajar
Ahmad sutiyanto
Nursahid

Teknik dan alat evaluasi hasil belajar
Fika niken nukhana
Nur sholihah

Pengukuran ranah kognisi afeksi dan psikomotorik
Ana Latifatul J
Imam sahroni
Sulistiyani

Prosedur pelaksanaan tes dan hasil belajar
Khoirul anwar
Muhammad Ridwan
Siti Maratus

Pengukuran dan reliabilitas tes hasil belajar
Habib Umar
Jasmiatun
Muslihatin

Kaidah penilaian tes hasil belajar
Dwi Novika
Rofiatun
Supriyadi

Pengolahan hasil tes hasil belajar
Ahmad Syaifuddin
Nurhalimah
Zaenul Wafa

Pengolahan evaluasi tes hasil belajar
M. Faisol Sujadi
M. Sholihul Huda
Zuliana N.A

Senin, 10 Maret 2014

Daftar kelompok pengamalan ibadah

DAFTAR KELOMPOK PENGAMALAN IBADAH

Pengertian, urgensi, sifat, dan prinsip ibadah serta kaitanya dengan kehidupan saosial
Ahmad sutiyanto
Ana latifatul jannah
Suharno

thaharoh, hadats, najis, dan makna sosial ibadah
imam sahroni
nurhalimah
Umi shodriyah

Shalat, zhikir, dan kaitanya dengan kehidupan sosial
Ahmad yasin
Dwi nofika sari

Shalat jum’at dan shalat berjamaah
Nursahid
Sulistiyani
Zaenul wafa

Shalat-shalat sunnah I
Jasmiatun
Nur sholihah

Shalat-shalat sunnah II
Fika Niken Nukhana
Rofiatun
Khoirul anwar

Puasa dan dan kaitanya dengan kehidupan sosial
Muh Sholikul Huda
Uswatun Hasanah
Habib Umar

Macam-macam puasa
Muslihatin
Zuliana nur asriani
Bu

Zakat dan infak serta kaitanya dengan kehidupan sosial
Ahmad syaifuddin
Muh ridwan
Siti inaroh

Haji dan umrah serta kaitanya dengan kehidupan sosial
Mas’amah
Supriyadi
Mordhonnah

Perawatan jenazah dan kaitanya dengan kehidupan sosial
Sugiati
Muh faisaol Sujadi

Daftar kelompok BP

DAFTAR KELOMPOK BIMBINGAN PENYULUHAN

Kelompok I
Pengertian, arah,dan pendekatan dalam bibingan penyuluhan
Muh ridwan
Siti Mar’atus Syolihah
Supriyadi

Kelompok II
Orientasi dan ruanglingkup kerja bimbingan penyuluhan
Ahmad Yasin
Suharno

Kelompok III
Landasan-landasan bimbingan penyuluhan (landasaan filosofis dan landasan psikologis bimbingan penyuluhan)
Ana Latifatul Jannah
Sugiati
Umi Shodriyah

Kelompok IV
Prinsip-prinsip Bimbingan Penyuluhan
Dwi Nofika S
Nursahid

Kelompok V
Progam kerja bimbingan penyuluhan
Fika Niken Nukhana
Imam sahroni
Sulistiyani

Kelompok VI
Tujuan Bimbingan Penyuluhan
Ahmad Sutiyanto
Ahmad Syaifuddin
Siti Inaroh

Kelompok VII
Jenis-jenis layanan dan kegiatan Bimbingan Penyuluhan
Muslihatin
Nur Sholihah
Rofiatun

Kelompok VIII
Metode dan teknik Bimbingan Penyuluhan
Habib Umar
Muh Sholikul Huda
Nurhalimah

Kelompok IX
Penanganan Kesulitan Belajar
Jasmiatun
Muh Faisol Sujadi
Zaenul Wafa

Kelompok X
Bimbingan Penyuluhan Sebagai Profesi
Mas’amah
Uswatun Hasanah
Zuliana Nur Asriani

Pati, 8 Maret 2014
Coash: Ka’anto MSI
Kapten: Suharno (085 727 455 936)

Sabtu, 08 Maret 2014

Materi Pengembangan Evaluasi PAI

pengembangan sistem evaluasi PAI

topik:
1. pengertian ruanglingkup dan fungsi evaluai PAI
2. evaluasi hasil belajar
3. ragam evaluasi hasil belajar
4. teknik dan alat evaluasi hasil belajar
5. pengukuran ranah kognisi afeksi dan psikomotorik
6. prosedur pelaksanaan tes dan hasil belajar
7. pengukuran dan reliabilitas tes hasil belajar
8. kaidah penilaian tes hasil belajar
9. pengolahan hasil tes hasil belajar
10. pengelolaan evaluasi tes hasil belajar

Rabu, 08 Januari 2014

Penyusunan Dan Pengembangan Alat Evaluasi non tes

PENYUSUNAN DAN PENGEMBANGAN
ALAT EVALUASI NON TES

Instrumen evaluasi adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi untuk keperluan evaluasi.
Instrumen yang digunakan dapat dibuat sendiri atau menggunakan instrumen yang telah tersedia.  Instrumen yang sudah tersedia pada umumnya sudah dianggap baku. Kalau menggunakan instrumen yang sudah baku dapat langsung digunakan, dengan catatan teori yang dijadikan landasan penyusunan instrumen tersebut harus sesuai dengan teori yang menjadi landasan kegiatan evaluasi.

Untuk instrumen non tes, harus di create sendiri.  Dalam menyusun instrumen non tes sendiri itu, ada langkah-langkah yang perlu dilakukan, yaitu :
Ada dasar teori untuk merumuskan konstruk variabel yang hendak diukur dan dibuatkan instrumennya.

Definisikan konstruk, baik secara konseptual maupun secara operasional. Definisi konstruk secara konseptual untuk menjelaskan pengertian, sedangkan definisi secara operasional adalah definisi terukur, atau menjelaskan yang dapat diukur.
Contoh : gaya kepemimpinan seorang kepala sekolah, dapat diukur dilihat dari pemimpinnya atau bawahannya.

3. Kembangkan dimensi dan indikator
   Ini merupakan tahap yang paling kritis karena akan tercermin dalam kisi kisi.  Dimensi tidak mutlak, tapi indikator mutlak.  Indikator sama juga dengan konsep.
Untuk konsep yang tunggal (misalnya motivasi belajar), indikatornya bisa sebagai subyek atau konsep dari variabel.
Sedangkan untu konsep ganda (misalnya sikap), ada 3 dimensi, yaitu kognitif, afektif dan konasi (kecenderungan untuk mendekati obyek) atau sikap +
Contoh : Sikap terhadap profesi guru
DimensiProfesi GuruTugasInsentifStatusKognitif
Afektif
Konasiv
v
vv
v
vv
v
v
4. Menetapkan jenis instrumen

5. Membuat kisi-kisi instrumen yang memuat dimensi, indikator, nomor butir dan jumlah butir untuk setiap dimensi dan indicator

Menetapkan besaran atau  rentangan parameter.  Rentangan parameter ini bergerak dalam suatu rentangan kontinun dari suatu kutub ke kutub lain yang berlawanan. Misalnya dari rendah ke tinggi, dari positif ke negatif, dari otoriter ke demokratik, dsbnya.  

7. Menulis butir-butir instrumen, dapat berbentuk pernyataan atau pertanyaan.  Butir instrumen yang dibuat terdiri atas 2 kelompok, yaitu kelompok butir positif dan kelompok butir negatif.   
Butir positif adalah pernyatan yang menandakan ciri/keadaan/sikap /persepsi yang positif atau mendekat ke kutub positif, sedangkan butir negatif adalah pernyatan yang menandakan ciri/keadaan/persepsi/sikap negatif atau mendekat  ke kutub negatif.

Proses validasi baik validasi konstruk maupun validasi konten, untuk mengkaji item secara logika dan telaah konsep apakah sudah benar.
Proses ini merupakan validasi teoritik dan validasi empirik yang dilakukan
dengan melalui penilaian (justifikasi pakar) dan panel.

9. Revisi atau perbaikan instrumen berdasarkan masukan-masukan dari pakar atau hasil panel.

Reproduksi terbatas instrumen untuk keperluan uji coba.

11. Proses validasi empirik (validitas criteria).
Berdasarkan statistika, validasi item tidak menjamin bahwa semua item itu valid, karena itu perlu dilakukan :
Uji coba instrumen di lapangan, ini merupakan bagian dari validasi empirik atau validasi criteria. Karakteristik responden harus ekivalen dengan karakteristik populasi penelitian.

Analisis data hasil uji coba untuk menguji validitas. Pengujian harus menggunakan criteria baik criteria internal (instrumen itu sendiri) maupun criteria eksternal (hasil ukur di luar instrumen).  Jadi di sini ada uji validasi korelasi butir total.
Hitung koefisien reliabilitas dengan rentangan nilai 0 – 1 untuk menunjukkan kualitas atau konsistensi hasil ukur instrumen.
c. Seleksi butir berdasarkan criteria
Misal : Jumlah item ada 35, yang valid 30 drop 5, maka yang ditulis lagi nanti adalah item-item yang valid, yang drop dihilangkan.

Finalisasi instrumen,
Bila item-item instrumen sudah valid, maka instrumen ini akan menjadi instrumen final yang akan digunakan untuk mengukur variabel penelitian.

Penggandaan instrumen sesuai dengan kebutuhan.

14. Instrumen siap pakai.




PENYUSUNAN DAN PENGEMBANGAN TES SEBAGAI
ALAT EVALUASI TES

Tes, skala, kuesioner, format observasi, semuanya itu merupakan alat evaluasi.  Khusus untuk evaluasi hasil belajar, alat evaluasi yang  paling banyak digunakan adalah  tes.

Tes adalah suatu cara atau alat  untuk  mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serngkaian tugas yang harus dikerjakan oleh siswa atau sekelompok siswa sehingga menghasilkan nilai tentang tingkah laku atau prestasi siswa sebagai peserta didik.

Fungsi tes ada 2 macam :
1. Untuk mengukur tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi atau tingkat pencapaian terhadap seperangkat tujuan tertentu, (Lebih dititikberatkan untuk mengukur keberhasilan program pembelajaran).

2. Untuk menentukan kedudukan atau peringkat siswa dalam kelompok, tentang penguasaan materi atau pencapaian tujuan pembelajaran tertentu, (lebih diarahkan untuk mengukur keberhasilan belajar masing-masing individu peserta tes.

Langkah-langkah dalam pengembangan tes :
1. Menetapkan tujuan tes
Misalnya tes untuk tujuan diagnostik, tes untuk untuk evaluasi belajar tahap akhir, tes untuk seleksi seperti untuk seleksi masuk perguruan tinggi atau beasiswa, dan lain-lain.

2. Analisis kurikulum
Tujuannya untuk menentukan bobot setiap pokok bahasan yang akan dijadikan sebagai dasar dalam menentukan item atau butir soal untuk setiap pokok bahasan untuk soal obyektif atau bobot soal untuk bentuk uraian, dalam membuat kisi-kisi tes.

3. Analisis buku pelajaran dan sumber materi belajar lainnya
Tujuannya sama dengan analisis kurikulum, , yaitu untuk menentukan bobot setiap pokok bahasan. Akan tetapi bobot setiap pokok bahasan berdasarkan jumlah halaman materi yang termuat dalam buku pelajaran atau sumber materi belajar lainnya.

4. Membuat kisi-kisi
Gunanya adalah untuk menjamin agar butir-butir tes mencakup keseluruhan materi (pokok bahasan/subpokok bahasan) secara proporsional.

PBBOBOTASPEK KOGNITIF(C1 (20%)C2 (50%)C3 (30%)
C……A
B
C D E F G10
20
5
10
25
20
101
2
-
1
2
2
-2
4
1
2
5
4
21
2
1
1
3
2
2……
.
.
.
.
.
.4
8
2
4
10
8
4(10082012……40 10% x 40 = 4 20% x 4 = 0,8 = 1
50% x 4 = 2
30% x 4 = 1,2 = 1

Jumlah item harus proporsional, jika  materi PB nya banyak, maka jumlah soal juga banyak.
5. Menulis TIK (Tujuan Instruksional Khusus).
TIK harus mencerminkan tingkah laku siswa, karena itu perlu dirumuskan secara operasional.

6. Menulis soal
Ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menulis soal, yaitu :
Soal yang dibuat harus valid, artinya mampu mengukur tercapai tidaknya tujuan yang telah dirumuskan.
Soal yang dibuat harus dapt dikerjakan dengan menggunakan 1 kemampuan spesifik, dengan bahasa yang mudah dimengerti, sehingga tidak mempunyai tafsir ganda.
Hindari kesalahan dalam pengetikan soal
Tetapkan sejak awal aspek kemampuan yang hendak diukur
Berikan petunjuk yang lengkap dan jelas dalam pengerjaan soal.

7. Reproduksi tes
Perbanyak tes sesuai dengan jumlah sampel atau jumlah peserta tes.

8. Uji coba tes
Tes yang sudah diperbanyak diuji-cobakan pada sejumlah sampel yang ditetapkan.

9. Analisis hasil coba
Meliputi validitas butir, tingkat kesukaran dan fungsi pengecoh

10. Revisi soal

11. Merakit soal menjadi tes

Semua variabel konstruk adalah kontinunm,dan variabel-variabel factual (kongkrit) adalah diskontinum.
Kontinum bersifat bipolar.




(Drs Nurul Huda MPdI)

Penskoran

PENSKORAN

Penskoran adalah suatu proses pengubahan jawaban instrumen menjadi angka-angka yang merupakan nilai kuantitatif dari suatu jawaban terhadap item- item dalam instrumen.

Hal-hal yang perlu diperhatikan :
Dalam penyusunan dan pengembangan tes adalah tes tersebut sudah mempunyai validitas dan reliabilitas.
Setelah tes disusun, maka diharapkan hasil ukur tes tersebut akan dapat mengungkapkan dengan tepat ciri atau keadaan yang sesungguhnya dari obyek ukur.  Artinya, tes tersebut dapat mengungkapkan dengan tepat penguasan (kemampuan) siswa terhadap materi pelajaran.

Dalam pelaksanaan tes, harus ada instruksi dan pengawasan tes.

Setelah pelaksanaan tes, ada penilain terhadap hasil belajar dengan menggunakan tes atau memberi nilai (skor).
Langkah-langkahnya :
Memberi nilai atau skor, adalah memberikan angka berdasarkan jawaban-jawaban terhadap tes yang diberikan dan nilai atau skor yang diperoleh disebut skor mentah.
Memberi nilai untuk menentukan nilai/skor akhir (grade) berdasarkan skor mentah, yang  disebut dengan menilai.

Ada 2 cara pemberian nilai, yaitu :
Pemberian nilai berdasarkan PAP
Pemberian nilai berdasarkan PAN

(PMMP bpk Nurul Huda dosen STAI PATI)

Tentang hebatnya mengaji

Tentang hebatnya mengaji Ilmu Agama laksana air hujan menembus bumi, orang alim yang mengamalkan ilmunya laksana bumi yang subur. Orang yang...