Selasa, 09 Oktober 2012

manusia dan ilmu pengetahuan


MANUSIA DAN ILMU PENGETAHUAN
A.  Rasional Kehidupan manusia
Manusia tidak lebih dari suatu bagian alam bendawi yang mengelilinginya. Oleh karena itu :
a.       Kejadiannya dapat diterangkan secara mekanis.
b.      Kehidupan manusia terjadi selama ada sirkulasi darah dan jantung berdenyut (pengaruh mekanis atmosfir)
1.      Fertilisasi Zygot
a.       Pembuahan sel telur (ovum) oleh sel sperma.
b.      Peleburan ovum dan sperma membentuk sel-komplek disebut zygot

2.      Konsepsi Embrio
  • Pembelahan sel tunggal –zygot  menjadi beberapa sel yang disebut embryo
  •  Selama proses pembelahan berlangsung, diikuti pembentukan jaringan
3.      Organogenesis Fetus
a.       Pembentukan alat-alat tubuh (organ), meliputi organ internal dan eksternal.
b.       Organ-organ membentuk fungsi tertentu dari kehidupan (pencernaan, bernapas, dll)
4.      Pertumbuhan Anak
a.       Kemampuan melayani kebutuhan fisik secara sederhana sudah berubah
b.      Masih tergantung kepada orang lain dan memerlukan perlindungan dan kasih sayang orang lain.
c.       Belum dapat membedakan antara yang nyata (faktual) & khayal/abstrak.
d.      Kemampuan memecahkan persoalan dengan berdasarkan hal-hal yg konkrit.

5.      Pertumbuhan Remaja
a.       Bertambahnya kemampuan membuat abstraksi, memahami hal-hal yang bersifat abstrak.
b.      Tumbuhnya minat untuk memahami diri sendiri dan orang lain.
c.       Tumbuhnya kemampuan untuk membuat keputusan sendiri.
d.      Tumbuhnya pengertian tentang konsepsi moral dan nilai-nilai

6.      Pertumbuhan Dewasa
a.       Memiliki kemantapan emosi.
b.      Kemampuan adaptasi dengan lingkungan semakin mantap.
c.       Sanggup memenuhi hak dan kewajiban kelompok sepenuhnya.
d.      Menyadari kekurangan diri yg harus ditingkatkan untuk penyempurnaan diri (self improvement).
e.       Kreativitas mulai menurun.

B.     Rasional Kehidupan Manusia
Alam yang harus ditempuh manusia dalam perspektif agama Islam :
1.    Alam kandungan (rahim)
2.    Alam dunia (bumi)
3.    Alam kubur (barzah)
4.    Alam akhirat (surga-neraka)
Kehidupan dan kematian manusia menurut perspektif agama Islam :
a.       Secara fisik-jasmani (mekanis) telah mati tetapi rohani-jiwa tetap hidup.
b.      Kematian adalah lanjutan hidup yang kekal dan abadi
Seluruh semesta (makrokosmos) termasuk manusia (mikrokosmos) hanya terdiri satu zat (asas) :
a.       Paham materialisme mendasarkan pada realitas sesuatu sebenarnya adalah materi (serba benda).
b.      Perilaku manusia hanya didasarkan atas reaksi alamiah semata.
c.       Karenanya, pendidikan hanya bertugas untuk melatih pengalaman reaktif tersebut.
d.      Paham idealisme mendasarkan pada pandangan bahwa realitas yang sebenarnya adalah berupa idea/rokhani.
e.       Ide adalah entitas yang sebenarnya, materi hanyalah “bayang- bayang semata”.
f.       Jiwa merupakan asas primer dlm eksistensi manusia, sedangkan  jasmani tanpa jiwa, tiada berdaya.
g.      Karenanya, pendidikan berfungsi mengembangkan potensi-potensi rokhani tersebut.
Realitas semesta merupakan per-paduan antara unsur animate dan inanimate (zat hidup dan benda mati):
a.       Manusia merupakan sintesis antara jasmani dan rokhani.
b.      Pemilahan antara kedua unsur tersebut tidak bisa secara dikotomis
Tugas pendidikan harus mengembangkan kedua unsur secara harmonis, sebab keduanya (jasmani & rokhani) memang merupakan totalitas.
C.     Empirik Manusia Epistemologis Pengetahuan   
Cara manusia memperoleh pengetahuan dengan memanfaatkan fungsi alat indra.
àPengetahuan berdasarkan indrawi dikategorikan pengetahuan empirik.
àPengalaman menjadi bagian yang urgen dari seluk beluk adanya pengetahuan. Pengalaman manusia berbeda, tentu dalam menyelesaikan masalahnya bersumber kepada pengalaman yang beragam.
àPengetahuan berkembang banyak.
àPengalaman merupakan sumber pengetahuan yang utama.
àDalam filsafat kemudian melahirkan aliran empirisme.
D.    Doktrin Empirisme Versus Rasionalis
Bahasa Yunani : Empeiria (coba-coba atau pengalaman). Empirisme lawan rasional
1). Menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan
2). Empirisme mengecilkan peranan akal atau rasio.

1.      Doktrin Empirisme
Teori makna filsafat empirisme sangat dekat dengan positivisme logis. Teori makna dan empirisme harus dipahami melalui penafsiran pengalaman. Bagi orang empirisme:
1)    Jiwa dipahami sebagai gelombang pengalaman kesadaran
2)    Materi sebagai pola (pattern) jumlah yang dapat diindra
3)    Hubungan kausalitas sebagai urutan peristiwa yang sama
Pandangan penganut empirisme :
1)   Pengalaman merupakan sumber pengetahuan bagi manusia
2)   Tanpa pengalaman, rasio tidak memiliki kemampuan untuk memberikan gambaran tertentu. Kalaupun menggambarkan sedemikian rupa, tanpa pengalaman, rasio hanyalah khayalan belaka

2.      Pengalaman Empirisme dalam Perspektif Islam


a.     Empirisme John Locke: Lembaran Tabula rasa
1)   Pada waktu manusia dilahirkan, keadaan akalnya masih bersih, ibarat kertas kosong yang belum bertuliskan apapun (tabula rasa).
2)   Pengetahuan baru muncul ketika indra manusia menimba pengalaman dengan cara melihat dan mengamati berbagai kejadian dalam kehidupan.
3)   Kertas tersebut mulai bertuliskan berbagai pengalaman indrawi.
b.      Teori Fitrah  Q.S. Ar Rum : 30   
Fa aqim wajhaka lid-diini haniifaa, fitratallaahillatii fataran-naasa ‘alaihaa, laa tabdiila likhalqillaah, dzaalikad-diinul-qayyimu wa laakinna aksaran-naasilaa ya’lamuun
“ Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu *. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui “
(*) Fitrah Allah maksudnya: ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama,yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar.
(*) Fitrah adalah bawaan manusia sejak lahir yang di dalamnya terkandung tiga potensi dengan fungsinya masing-masing :
1). Potensi ‘Aql (akal), Potensi akal manusia yang berfungsi untuk mengenal Tuhan, mengesakan Tuhan, dan mencintai-Nya.
2). Potensi Syahwat, Potensi syahwat yang berfungsi untuk menginduksi / menyebabkan objek-objek yang menyenangkan.Potensi Gadhab,
3). Potensi yang berfungsi untuk menghindari segala yang membahayakan. Ketika manusia dilahir-kan, ketiga potensi ini telah dimilikinya. Agar ketiga potensi manusia beraktualisasi perlu ada bantuan dari luar dirinya.

E.     Sumber Pengetahuan Manusia 
1.      Fitrah & Empiris   
Pengetahuan diperoleh dengan cara menggunakan dan membandingkan ide-ide dari pengindraan serta refleksi (pengalaman batiniah). Dalam perspektif Islam, kedua orang yang pertama-tama berkewajiban memberikan pengetahuan yang mengoptimalkan ketiga potensi tersebut. Artinya, orang tualah yang menggoreskan tulisan di atas lembaran putih anak yang baru terlahir itu.
2.      Manusia dan Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Pendidikan Islam
  
a.    Manusia adalah makhluk yang paling sempurna (Insan Kamil).
b.    Kesempurnaan manusia berada pada jasmani dan rohaninya.
c.    Ciri utama manusia yang sempurna adalah makhluk yang berpikir ( Homo sapiens ).
d.   Akal yang bisa membedakan baik dan buruk.
e.    Akal adalah alat utama agar manusia dapat mempertahankan kehidupannya.
f.     Akal memproduk ilmu pengetahuan atas berbagai sumber, misalnya dari pengindra-an, pengalaman, pengamatan, dan sebagai –nya.
g.    Manusia dengan akalnya dapat mencipta-kan pengetahuan yang bermanfaat sekaligus dapat merusak tatanan kehidupan.
h.    Islam memberikan sistem etika yang baik dan benar agar manusia senantiasa mengembangkan peranan akalnya dengan nilai-nilai yang diridlai Allah.
i.      Manusia yang tidak berakal adalah manusia yang telah rusak unsur syaraf otaknya atau ia merusak kehidupan dengan akalnya, karena memanfaatkan akal tanpa nilai-nilai ilahiyyah dan rubbubiyyah.
3.      Perspektif Islam (Kebenaran) 
Pada dasarnya ilmu adalah pengetahuan tentang kebenaran.
ILMU PENGETAHUAN
FILSAFAT
AGAMA ISLAM
Mencari kebenaran
Rasio di depan
Ro’yu
Kebenaran ilmu / indrawi
Cara kerja ilmiah
Hasil percobaan
Terbuka untuk diuji
Relatif (keilmuan)
Mencari kebenaran
Melebihi rasio
Ro’yu
Kebenaran filsafat
Cara kerja kadang di luar pengalaman
Hasil perenungan
Tergantung pada penerimaan rasio
Relatif (kefilsafatan)
Mengajarkan kebenaran
Rasa di depan, rasio di belakang
Wahyu
Kebenaran agama
Cara kerja hati /keyakinan
Hasil wahyu
Tergantung tinggi rendahnya keimanan
Sifat : mutlak




Ujian Mid Semester
Kerjakan soal-soal mid semester di lembar jawaban yang disediakan. Diperbolehkan membuka handout, catatan, tetapi jangan berdiskusi
  1. cabang keilmuan lainnya, termasuk pendidikan.
       a) Mengapa cabang filsafat perlu diperkenalkan kepada mahasiswa pendidikan (tarbiyah) ?
       b) Apa relevansinya filsafat bagi upaya pengembangan peserta  didik ( jika berprofesi guru ), jelaskan  berdasarkan pendekatan ontologi, epistemologi, dan axiologi !
       c) Jelaskan peran penting filsafat bagi pengembangan kompetensi guru (pedagogik, profesional, sosial, akademik) menurut perspektif John & Harry (Jendela John-Harry) !
  1. Cara berpikir filsafat adalah merenung secara mendalam (radikal), holistik (menyeluruh), dan kritis. Dari hasil perenungan itu memunculkan aliran-aliran dalam penyelenggaraan pendidikan, misalnya aliran nativisme, empirisme, dan konvergensi.
    a) Jelaskan ketiga aliran pendidikan di atas, apa kelebihan dan kekurangannya ?
b) Pilih salah satu aliran tersebut, mana yang tepat bagi penyelenggaraan pendidikan, apa alasannya ?
c) Ada kesamaan cara berpikir John Lock dengan Q.S Ar-Rum : 30. Apa tugas guru sesuai dengan kedua pemikiran di atas ?

Tinjauaan teoritis tentang belajar



TINJAUAN TEORITIS TENTANG BELAJAR

A.    Teori-Teori Belajar
Secara umum teori tentang belajar dibagi menjadi tiga:
1.    Teori Belajar menurut Psikologi Behavioristik
Behavioristik berpendapat, bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran (reward) atau penguatan (reinforcement) dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioral dengan stimulasinya[1].
Guru yang menganut pandangan teori ini berpendapat, bahwa tingkah laku murid merupakan reaksi-reaksi terhadap lingkungan mereka pada masa lalu dan masa sekarang, dan segenap tingkah laku adalah merupakan hasil belajar. Kita dapat menganalisis kejadian tingkah laku dengan jalan mempelajari latar belakang penguatan (reinforcement) terhadap tingkah laku tersebut. Tokoh dalam teori ini antara lain; Thorndike, Ivan Pavlov, John B. Watson, dan E. R Guthrie
2.    Teori Belajar menurut Psikologi Kognitif
Menurut aliran kognitifis, tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku terjadi[2]. Dalam situasi belajar, seseorang terlibat langsung dalam situasi itu dan memperoleh insight untuk pemecahan masalah. Jadi, tingkah laku seseorang lebih bergantung kepada insight terhadap hubungan-hubungan yang ada di dalam suatu situasi. Tokoh dalam teori ini antara lain: Mex Wertheirmer, Kurt Lewin, dan Piaget.
3.    Teori Belajar menurut Psikologi Humanistik
Menurut para pendidik aliran Humanistik penyusunan dan penyajian materi pelajaran harus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa[3]. Tujuan utama para pendidik ialah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantunya dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada pada diri mereka.
Psikologi humanistik berusaha untuk memahami perilaku seseorang dari sudut Si pelaku (behaver), bukan dari Si pengamat (observer). Tokoh-tokoh teori belajar Psikologi Humanistik diantaranya; Combs, Maslov, dan Rogers.

B.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar.
Ada beberapa faktor yang berpengaruh dalam proses belajar. Ada kalanya faktor yang disebabkan dari dalam diri siswa, ada kalanya faktor yang berasal dari luar dirinya[4].
Aspek fisiologis siswa yang tidak baik akan mempengaruhi aspek psikologis. Begitu juga bila lingkungan (baik sosial maupun non sosial) di sekitar siswa tidak baik, maka akan berdampak pada proses dan hasil belajar. Oleh karena itu guru dan orang tua agar menciptakan situasi dan kondisi belajar yang bisa mendukung keberhasilan belajar siswa, baik di sekolah maupun di rumah.

C.    Jenis-Jenis Belajar
1.    Belajar arti kata-kata
Mengerti kata-kata merupakan dasar terpenting. Orang yang membaca akan mengalami kesukaran untuk memahami isi bacaan jika tidak mengerti arti kata-kata[5]. Karena ide-ide yang ada dalam suatu kata atau kalimat hanya dapat dipahami dengan mengerti arti setiap kata.
2.    Belajar Kognitif
Belajar kognitif bersentuhan dengan masalah mental[6]. Kegiatan mental berproses ketika memberikan tanggapan terhadap obyek-obyek yang diamati. Obyek-obyek yang diamati dihadirkan dalam diri seseorang melalui tanggapan, gagasan, atau lambang yang merupakan sesuatu bersifat mental
3.    Belajar menghafal
Menghafal adalah suatu aktivitas menanamkan suatu materi verbal di dalam ingatan, sehingga nantinya dapat diproduksikan (diingat) kembali secara harfiah, sesuai dengan materi yang asli
4.    Belajar Konsep
Belajar konsep merupakan salah satu cara belajar dengan pemahaman. Ciri khas dari konsep yang diperoleh sebagai hasil belajar pengertian ini adalah adanya skema konseptual. Skema konseptual adalah suatu keseluruhan kognitif, yang mencakup semua ciri khas yang terkandung dalam suatu pengertian.
5.    Belajar Kaidah
Kaidah adalah suatu pegangan yang tidak dapat diubah-ubah. Kaidah merupakan suatu representasi (gambaran) mental dari kenyataan hidup dan sangat berguna dalam mengatur kehidupan sehari-hari[7]. Orang yang mempelajari kaidah mampu menghubungkan beberapa konsep. Misalnya, seseorang berkata, “besi dipanaskan memuai”, hal ini karena ia telah menguasai konsep dasar mengenai “besi”, “dipanaskan” dan “memuai”, dan dapat menentukan adanya suatu relasi yang tetap antara ketiga konsep dasar itu, maka dia dengan yakin mengatakan bahwa “besi dipanaskan memuai”.
6.      Belajar berpikir
Berpikir adalah kemampuan jiwa untuk meletakkan hubungan antara bagian-bagian pengetahuan. Dalam belajar ini, orang dihadapkan pada suatu masalah yang harus dipecahkan. Masalah harus dipecahkan melalui operasi mental, khususnya menggunakan konsep dan kaidah serta metode-metode bekerja tertentu.

D.    Motivasi Belajar
Motivasi adalah gejala psikologis dalam bentuk dorongan yang timbul pada diri seseorang baik sadar atau tidak sadar untuk melalukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu.
Dalam motivasi terdapat tiga hal[8], yaitu :
1.         Suatu perubahan tenaga dalam diri seseorang. Setiap perubahan motivasi berakibat pada perubahan tenaga di dalam sistem neoro fisiologis dari organisme manusia.
2.         Ditandai oleh dorongan afektif, seperti lebih bersemangat.
3.         Ditandai oleh reaksi-reaksi mencapai tujuan, yaitu tindakan nyata.
Motivasi dapat dibagi menjadi 2 jenis[9], yaitu :
1.      Motivasi Intrinsik adalah dorongan untuk melakukan sesuatu yang berasal dari diri individu itu sendiri. Dikatakan motivasi intrinsik apabila seorang siswa termotivasi untuk belajar semata-mata untuk menguasai ilmu pengetahuan bukan karena motif lain seperti pujian, nilai yang tinggi, atau hadiah. Motivasi itu muncul karena ia merasa membutuhkan sesuatu dari apa yang ia pelajari. Kesadaran pentingnya terhadap apa yang dipelajari adalah sangat penting untuk memunculkan motivasi intrinsik. Bila seseorang telah memiliki motivasi intrinsik maka selalu ingin maju dalam belajar sserta haus ilmu pengetahuan.
2.      Motivasi Ekstrinsik adalah dorongan untuk melakukan sesuatu karena adanya perangsang dari luar diri individu. Peserta didik belajar karena hendak mencapai tujuan yang terletak di luar hal yang dipelajarinya, seperti nilai yang tinggi, kelulusan, ijazah, gelar, kehormatan dan lain-lain. Motivasi ekstrinsik meskipun kurang baik akan tetapi sangat diperlukan dalam proses pendidikan agar anak didik mau belajar. Motivasi ekstrinsik tidak selalu buruk. Ia sering digunakan karena bahan pelajaran kurang menarik perhatian anak didik.

Ada beberapa bentuk motivasi yang dapat dimanfaatkan dalam rangka mengarahkan belajar anak didik di kelas[10], yaitu :
1.      Memberi angka/nilai
2.      Hadiah
3.      Kompetisi/persaingan
4.      Memberi ulangan/evaluasi
5.      Mengetahui hasil belajar
6.      Pujian
7.      Hukuman/sanksi
8.      Piagam/sertifikat
9.      Hasrat untuk belajar


[1] Sumardi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Grafindo Graha Persada, 2006) Hlm.66
[2] Ibid 67.
[3] DR. H. Syaiful Sagala, M.Pd., Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2005) Hlm. 127.
[4] Tim MKDK IKIP Semarang, Belajar dan Pembelajaran, (Semarang: Fak. Ilmu pendidikan Semarang, 1996) Hlm. 10-11.
[5] Tim MKDK IKIP Semarang, Opcit, Hlm 6
[6] Tim MKDK IKIP Semarang, Opcit, Hlm 6
[7] Tim MKDK IKIP Semarang, Opcit, Hlm 7
[8] Tim MKDK IKIP Semarang, Opcit, Hlm 31
[9] Tim MKDK IKIP Semarang, Opcit, Hlm 32
[10] Tim MKDK IKIP Semarang, Opcit, Hlm 32

Tentang hebatnya mengaji

Tentang hebatnya mengaji Ilmu Agama laksana air hujan menembus bumi, orang alim yang mengamalkan ilmunya laksana bumi yang subur. Orang yang...