Selasa, 09 Oktober 2012

Tinjauaan teoritis tentang belajar



TINJAUAN TEORITIS TENTANG BELAJAR

A.    Teori-Teori Belajar
Secara umum teori tentang belajar dibagi menjadi tiga:
1.    Teori Belajar menurut Psikologi Behavioristik
Behavioristik berpendapat, bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran (reward) atau penguatan (reinforcement) dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioral dengan stimulasinya[1].
Guru yang menganut pandangan teori ini berpendapat, bahwa tingkah laku murid merupakan reaksi-reaksi terhadap lingkungan mereka pada masa lalu dan masa sekarang, dan segenap tingkah laku adalah merupakan hasil belajar. Kita dapat menganalisis kejadian tingkah laku dengan jalan mempelajari latar belakang penguatan (reinforcement) terhadap tingkah laku tersebut. Tokoh dalam teori ini antara lain; Thorndike, Ivan Pavlov, John B. Watson, dan E. R Guthrie
2.    Teori Belajar menurut Psikologi Kognitif
Menurut aliran kognitifis, tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku terjadi[2]. Dalam situasi belajar, seseorang terlibat langsung dalam situasi itu dan memperoleh insight untuk pemecahan masalah. Jadi, tingkah laku seseorang lebih bergantung kepada insight terhadap hubungan-hubungan yang ada di dalam suatu situasi. Tokoh dalam teori ini antara lain: Mex Wertheirmer, Kurt Lewin, dan Piaget.
3.    Teori Belajar menurut Psikologi Humanistik
Menurut para pendidik aliran Humanistik penyusunan dan penyajian materi pelajaran harus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa[3]. Tujuan utama para pendidik ialah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantunya dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada pada diri mereka.
Psikologi humanistik berusaha untuk memahami perilaku seseorang dari sudut Si pelaku (behaver), bukan dari Si pengamat (observer). Tokoh-tokoh teori belajar Psikologi Humanistik diantaranya; Combs, Maslov, dan Rogers.

B.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar.
Ada beberapa faktor yang berpengaruh dalam proses belajar. Ada kalanya faktor yang disebabkan dari dalam diri siswa, ada kalanya faktor yang berasal dari luar dirinya[4].
Aspek fisiologis siswa yang tidak baik akan mempengaruhi aspek psikologis. Begitu juga bila lingkungan (baik sosial maupun non sosial) di sekitar siswa tidak baik, maka akan berdampak pada proses dan hasil belajar. Oleh karena itu guru dan orang tua agar menciptakan situasi dan kondisi belajar yang bisa mendukung keberhasilan belajar siswa, baik di sekolah maupun di rumah.

C.    Jenis-Jenis Belajar
1.    Belajar arti kata-kata
Mengerti kata-kata merupakan dasar terpenting. Orang yang membaca akan mengalami kesukaran untuk memahami isi bacaan jika tidak mengerti arti kata-kata[5]. Karena ide-ide yang ada dalam suatu kata atau kalimat hanya dapat dipahami dengan mengerti arti setiap kata.
2.    Belajar Kognitif
Belajar kognitif bersentuhan dengan masalah mental[6]. Kegiatan mental berproses ketika memberikan tanggapan terhadap obyek-obyek yang diamati. Obyek-obyek yang diamati dihadirkan dalam diri seseorang melalui tanggapan, gagasan, atau lambang yang merupakan sesuatu bersifat mental
3.    Belajar menghafal
Menghafal adalah suatu aktivitas menanamkan suatu materi verbal di dalam ingatan, sehingga nantinya dapat diproduksikan (diingat) kembali secara harfiah, sesuai dengan materi yang asli
4.    Belajar Konsep
Belajar konsep merupakan salah satu cara belajar dengan pemahaman. Ciri khas dari konsep yang diperoleh sebagai hasil belajar pengertian ini adalah adanya skema konseptual. Skema konseptual adalah suatu keseluruhan kognitif, yang mencakup semua ciri khas yang terkandung dalam suatu pengertian.
5.    Belajar Kaidah
Kaidah adalah suatu pegangan yang tidak dapat diubah-ubah. Kaidah merupakan suatu representasi (gambaran) mental dari kenyataan hidup dan sangat berguna dalam mengatur kehidupan sehari-hari[7]. Orang yang mempelajari kaidah mampu menghubungkan beberapa konsep. Misalnya, seseorang berkata, “besi dipanaskan memuai”, hal ini karena ia telah menguasai konsep dasar mengenai “besi”, “dipanaskan” dan “memuai”, dan dapat menentukan adanya suatu relasi yang tetap antara ketiga konsep dasar itu, maka dia dengan yakin mengatakan bahwa “besi dipanaskan memuai”.
6.      Belajar berpikir
Berpikir adalah kemampuan jiwa untuk meletakkan hubungan antara bagian-bagian pengetahuan. Dalam belajar ini, orang dihadapkan pada suatu masalah yang harus dipecahkan. Masalah harus dipecahkan melalui operasi mental, khususnya menggunakan konsep dan kaidah serta metode-metode bekerja tertentu.

D.    Motivasi Belajar
Motivasi adalah gejala psikologis dalam bentuk dorongan yang timbul pada diri seseorang baik sadar atau tidak sadar untuk melalukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu.
Dalam motivasi terdapat tiga hal[8], yaitu :
1.         Suatu perubahan tenaga dalam diri seseorang. Setiap perubahan motivasi berakibat pada perubahan tenaga di dalam sistem neoro fisiologis dari organisme manusia.
2.         Ditandai oleh dorongan afektif, seperti lebih bersemangat.
3.         Ditandai oleh reaksi-reaksi mencapai tujuan, yaitu tindakan nyata.
Motivasi dapat dibagi menjadi 2 jenis[9], yaitu :
1.      Motivasi Intrinsik adalah dorongan untuk melakukan sesuatu yang berasal dari diri individu itu sendiri. Dikatakan motivasi intrinsik apabila seorang siswa termotivasi untuk belajar semata-mata untuk menguasai ilmu pengetahuan bukan karena motif lain seperti pujian, nilai yang tinggi, atau hadiah. Motivasi itu muncul karena ia merasa membutuhkan sesuatu dari apa yang ia pelajari. Kesadaran pentingnya terhadap apa yang dipelajari adalah sangat penting untuk memunculkan motivasi intrinsik. Bila seseorang telah memiliki motivasi intrinsik maka selalu ingin maju dalam belajar sserta haus ilmu pengetahuan.
2.      Motivasi Ekstrinsik adalah dorongan untuk melakukan sesuatu karena adanya perangsang dari luar diri individu. Peserta didik belajar karena hendak mencapai tujuan yang terletak di luar hal yang dipelajarinya, seperti nilai yang tinggi, kelulusan, ijazah, gelar, kehormatan dan lain-lain. Motivasi ekstrinsik meskipun kurang baik akan tetapi sangat diperlukan dalam proses pendidikan agar anak didik mau belajar. Motivasi ekstrinsik tidak selalu buruk. Ia sering digunakan karena bahan pelajaran kurang menarik perhatian anak didik.

Ada beberapa bentuk motivasi yang dapat dimanfaatkan dalam rangka mengarahkan belajar anak didik di kelas[10], yaitu :
1.      Memberi angka/nilai
2.      Hadiah
3.      Kompetisi/persaingan
4.      Memberi ulangan/evaluasi
5.      Mengetahui hasil belajar
6.      Pujian
7.      Hukuman/sanksi
8.      Piagam/sertifikat
9.      Hasrat untuk belajar


[1] Sumardi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Grafindo Graha Persada, 2006) Hlm.66
[2] Ibid 67.
[3] DR. H. Syaiful Sagala, M.Pd., Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2005) Hlm. 127.
[4] Tim MKDK IKIP Semarang, Belajar dan Pembelajaran, (Semarang: Fak. Ilmu pendidikan Semarang, 1996) Hlm. 10-11.
[5] Tim MKDK IKIP Semarang, Opcit, Hlm 6
[6] Tim MKDK IKIP Semarang, Opcit, Hlm 6
[7] Tim MKDK IKIP Semarang, Opcit, Hlm 7
[8] Tim MKDK IKIP Semarang, Opcit, Hlm 31
[9] Tim MKDK IKIP Semarang, Opcit, Hlm 32
[10] Tim MKDK IKIP Semarang, Opcit, Hlm 32

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang hebatnya mengaji

Tentang hebatnya mengaji Ilmu Agama laksana air hujan menembus bumi, orang alim yang mengamalkan ilmunya laksana bumi yang subur. Orang yang...