Rabu, 08 Januari 2014

Penyusunan Dan Pengembangan Alat Evaluasi non tes

PENYUSUNAN DAN PENGEMBANGAN
ALAT EVALUASI NON TES

Instrumen evaluasi adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi untuk keperluan evaluasi.
Instrumen yang digunakan dapat dibuat sendiri atau menggunakan instrumen yang telah tersedia.  Instrumen yang sudah tersedia pada umumnya sudah dianggap baku. Kalau menggunakan instrumen yang sudah baku dapat langsung digunakan, dengan catatan teori yang dijadikan landasan penyusunan instrumen tersebut harus sesuai dengan teori yang menjadi landasan kegiatan evaluasi.

Untuk instrumen non tes, harus di create sendiri.  Dalam menyusun instrumen non tes sendiri itu, ada langkah-langkah yang perlu dilakukan, yaitu :
Ada dasar teori untuk merumuskan konstruk variabel yang hendak diukur dan dibuatkan instrumennya.

Definisikan konstruk, baik secara konseptual maupun secara operasional. Definisi konstruk secara konseptual untuk menjelaskan pengertian, sedangkan definisi secara operasional adalah definisi terukur, atau menjelaskan yang dapat diukur.
Contoh : gaya kepemimpinan seorang kepala sekolah, dapat diukur dilihat dari pemimpinnya atau bawahannya.

3. Kembangkan dimensi dan indikator
   Ini merupakan tahap yang paling kritis karena akan tercermin dalam kisi kisi.  Dimensi tidak mutlak, tapi indikator mutlak.  Indikator sama juga dengan konsep.
Untuk konsep yang tunggal (misalnya motivasi belajar), indikatornya bisa sebagai subyek atau konsep dari variabel.
Sedangkan untu konsep ganda (misalnya sikap), ada 3 dimensi, yaitu kognitif, afektif dan konasi (kecenderungan untuk mendekati obyek) atau sikap +
Contoh : Sikap terhadap profesi guru
DimensiProfesi GuruTugasInsentifStatusKognitif
Afektif
Konasiv
v
vv
v
vv
v
v
4. Menetapkan jenis instrumen

5. Membuat kisi-kisi instrumen yang memuat dimensi, indikator, nomor butir dan jumlah butir untuk setiap dimensi dan indicator

Menetapkan besaran atau  rentangan parameter.  Rentangan parameter ini bergerak dalam suatu rentangan kontinun dari suatu kutub ke kutub lain yang berlawanan. Misalnya dari rendah ke tinggi, dari positif ke negatif, dari otoriter ke demokratik, dsbnya.  

7. Menulis butir-butir instrumen, dapat berbentuk pernyataan atau pertanyaan.  Butir instrumen yang dibuat terdiri atas 2 kelompok, yaitu kelompok butir positif dan kelompok butir negatif.   
Butir positif adalah pernyatan yang menandakan ciri/keadaan/sikap /persepsi yang positif atau mendekat ke kutub positif, sedangkan butir negatif adalah pernyatan yang menandakan ciri/keadaan/persepsi/sikap negatif atau mendekat  ke kutub negatif.

Proses validasi baik validasi konstruk maupun validasi konten, untuk mengkaji item secara logika dan telaah konsep apakah sudah benar.
Proses ini merupakan validasi teoritik dan validasi empirik yang dilakukan
dengan melalui penilaian (justifikasi pakar) dan panel.

9. Revisi atau perbaikan instrumen berdasarkan masukan-masukan dari pakar atau hasil panel.

Reproduksi terbatas instrumen untuk keperluan uji coba.

11. Proses validasi empirik (validitas criteria).
Berdasarkan statistika, validasi item tidak menjamin bahwa semua item itu valid, karena itu perlu dilakukan :
Uji coba instrumen di lapangan, ini merupakan bagian dari validasi empirik atau validasi criteria. Karakteristik responden harus ekivalen dengan karakteristik populasi penelitian.

Analisis data hasil uji coba untuk menguji validitas. Pengujian harus menggunakan criteria baik criteria internal (instrumen itu sendiri) maupun criteria eksternal (hasil ukur di luar instrumen).  Jadi di sini ada uji validasi korelasi butir total.
Hitung koefisien reliabilitas dengan rentangan nilai 0 – 1 untuk menunjukkan kualitas atau konsistensi hasil ukur instrumen.
c. Seleksi butir berdasarkan criteria
Misal : Jumlah item ada 35, yang valid 30 drop 5, maka yang ditulis lagi nanti adalah item-item yang valid, yang drop dihilangkan.

Finalisasi instrumen,
Bila item-item instrumen sudah valid, maka instrumen ini akan menjadi instrumen final yang akan digunakan untuk mengukur variabel penelitian.

Penggandaan instrumen sesuai dengan kebutuhan.

14. Instrumen siap pakai.




PENYUSUNAN DAN PENGEMBANGAN TES SEBAGAI
ALAT EVALUASI TES

Tes, skala, kuesioner, format observasi, semuanya itu merupakan alat evaluasi.  Khusus untuk evaluasi hasil belajar, alat evaluasi yang  paling banyak digunakan adalah  tes.

Tes adalah suatu cara atau alat  untuk  mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serngkaian tugas yang harus dikerjakan oleh siswa atau sekelompok siswa sehingga menghasilkan nilai tentang tingkah laku atau prestasi siswa sebagai peserta didik.

Fungsi tes ada 2 macam :
1. Untuk mengukur tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi atau tingkat pencapaian terhadap seperangkat tujuan tertentu, (Lebih dititikberatkan untuk mengukur keberhasilan program pembelajaran).

2. Untuk menentukan kedudukan atau peringkat siswa dalam kelompok, tentang penguasaan materi atau pencapaian tujuan pembelajaran tertentu, (lebih diarahkan untuk mengukur keberhasilan belajar masing-masing individu peserta tes.

Langkah-langkah dalam pengembangan tes :
1. Menetapkan tujuan tes
Misalnya tes untuk tujuan diagnostik, tes untuk untuk evaluasi belajar tahap akhir, tes untuk seleksi seperti untuk seleksi masuk perguruan tinggi atau beasiswa, dan lain-lain.

2. Analisis kurikulum
Tujuannya untuk menentukan bobot setiap pokok bahasan yang akan dijadikan sebagai dasar dalam menentukan item atau butir soal untuk setiap pokok bahasan untuk soal obyektif atau bobot soal untuk bentuk uraian, dalam membuat kisi-kisi tes.

3. Analisis buku pelajaran dan sumber materi belajar lainnya
Tujuannya sama dengan analisis kurikulum, , yaitu untuk menentukan bobot setiap pokok bahasan. Akan tetapi bobot setiap pokok bahasan berdasarkan jumlah halaman materi yang termuat dalam buku pelajaran atau sumber materi belajar lainnya.

4. Membuat kisi-kisi
Gunanya adalah untuk menjamin agar butir-butir tes mencakup keseluruhan materi (pokok bahasan/subpokok bahasan) secara proporsional.

PBBOBOTASPEK KOGNITIF(C1 (20%)C2 (50%)C3 (30%)
C……A
B
C D E F G10
20
5
10
25
20
101
2
-
1
2
2
-2
4
1
2
5
4
21
2
1
1
3
2
2……
.
.
.
.
.
.4
8
2
4
10
8
4(10082012……40 10% x 40 = 4 20% x 4 = 0,8 = 1
50% x 4 = 2
30% x 4 = 1,2 = 1

Jumlah item harus proporsional, jika  materi PB nya banyak, maka jumlah soal juga banyak.
5. Menulis TIK (Tujuan Instruksional Khusus).
TIK harus mencerminkan tingkah laku siswa, karena itu perlu dirumuskan secara operasional.

6. Menulis soal
Ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menulis soal, yaitu :
Soal yang dibuat harus valid, artinya mampu mengukur tercapai tidaknya tujuan yang telah dirumuskan.
Soal yang dibuat harus dapt dikerjakan dengan menggunakan 1 kemampuan spesifik, dengan bahasa yang mudah dimengerti, sehingga tidak mempunyai tafsir ganda.
Hindari kesalahan dalam pengetikan soal
Tetapkan sejak awal aspek kemampuan yang hendak diukur
Berikan petunjuk yang lengkap dan jelas dalam pengerjaan soal.

7. Reproduksi tes
Perbanyak tes sesuai dengan jumlah sampel atau jumlah peserta tes.

8. Uji coba tes
Tes yang sudah diperbanyak diuji-cobakan pada sejumlah sampel yang ditetapkan.

9. Analisis hasil coba
Meliputi validitas butir, tingkat kesukaran dan fungsi pengecoh

10. Revisi soal

11. Merakit soal menjadi tes

Semua variabel konstruk adalah kontinunm,dan variabel-variabel factual (kongkrit) adalah diskontinum.
Kontinum bersifat bipolar.




(Drs Nurul Huda MPdI)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang hebatnya mengaji

Tentang hebatnya mengaji Ilmu Agama laksana air hujan menembus bumi, orang alim yang mengamalkan ilmunya laksana bumi yang subur. Orang yang...