Selasa, 20 September 2016

FILSAFAT DAN PENDIDIKAN


Filsafat Adalah Ilmu pengetahuan yang memikirkan segala sesuatu secara Radikal, Universal, Sistematis, Demi mencapai kebenaran yang hakiki, filsafat merupakan kegiatan berfikir dan produk berfikir.
Sedangkan pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi manusiawi peserta didik, baik potensi fisik, potensi cipta, rasa maupun karsa agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan kehidupan. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan secara menyeluruh. Pendidikan bertujuan mmenyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan organis, harmonis, dinamis guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. JadiFilsafat pendidikanAdalah ilmu yang pada hakikatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam lapangan pendidikan. Oleh karena itu bersifat filosof terhadap lapangan pendidikan. Hubungan antara filsafat dan pendidikan tapaknya tidak dapat dipisahkan lagi, karena kajian filsafat dan pendidikan harus menoleh kembali pada hakekat manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan. Pertanyaan yang mengarah kepada pemikiran filsafat pendidikan yang menurut Jacques Maritain dikutip kembali oleh Jalaluddin (1996:16) berawal dari: siapa kita, di mana kita dan kemana kita akan pergi, dikaji dalam konteks tujuan penciptaannya. Ketiga pertanyaan yang sederhana itu dihubungkan dengan fungsi dan hakikat manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan. Dan kiranya arti inilah yang mendorong para filosof mengarahkan pandangan mereka pada konsep agama
Beberapa aliran filsafat pendidikan adalah:
Filsafat pendidikan Progresivisme, yang didukung oleh filsafat pragmatisme;
Filsafat pendidikan esensialisme, yang didukung oleh idealisme dan realisme;
Filsafat pendidikan perenialisme, yang didukung oeh idealisme.
Objek penyelidikan filsafat adalah segala yang ada dan yang mungkin ada, tidak terbatas. Inilah yang disebut dengan objek material filsafat. Dengan demikian yang membedakan antara objek filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya adalah Filsafat bisa kita bedakan dengan ilmu pengetahuan lainnya dari segi sifat penyidikannya. Filsafat memiliki sifat mendalam dalam penyelidikan sesuatu. Di sinilah letak perbedaan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan lainnya. Filsafat berbeda dari ilmu pengetahuan karena beda objek formalnya.
Objek penyelidikan ilmu pengetahuan hanya terbatas pada sesuatu yang bisa diselidiki secara ilmiah saja, dan jika sudah tidak dapat diselidiki lagi maka ilmu pengetahuan akan terhenti sampai situ saja. Tetapi penyelidikan filsafat tidaklah demikian, filsafat akan terus bekerja hingga permasalahannya dapat ditemukan sampai ke akar-akarnya. Bahkan filsafat baru menampakkan hasil kerjanya manakala ilmu pengetahuan sudah terhenti penyelidikannya, yakni ketika ilmu tidak mampu memberi jawaban atas masalah. Inilah suatu ciri khas sifat penyelidikan fisafat, yang tidak dimiliki oleh ilmu pengetahuan. Sedangkan Kesamaan Antara filsafat dengan ilmu pengetahuan adalah objek filsafat yang dimaksud adalah objek materialnya, sebab ilmu pengetahuan pun mempunyai objek material yang sama dengan filsafat, yaitu segala yang ada dan yang mungkin ada.
Dapat disimpulkan Sifat – sifat penyelidikan dalam filsafat mempunyai tiga tahap :
Tahap Pertama, Menyeluruh, artinya melihat atau memandang objeknya secara menyeluruh (totalitas).
Tahap kedua, Mendasar, artinya filsafat menyelidiki objeknya sampai ke akar – akarnya, sampai ditemukannya hakikat sesuatu yang diselidiki.
Tahap Ketiga, Spekulatif, artinya hasil yang diperoleh dari penyelidikan filsafat baru berupa dugaan-dugaan belaka, dan bukan kepastian. Dugaan dugaan yang dimaksud disini, adalah dugaan-dugaan yang logis, masuk akal dan rasional, bukan dugaan yang hampa.
Menurut progresivisme, niai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan niai teah disimpan daam kebudayaan. Beajar berfungsi untuk mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompeks. Kurikulum baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat di sesuaikan dengan kebutuhan.

Kebutuhan Filsafat dan Pendidikan
Cara kerja dan hasil filsafat dapat dipergunakan untuk memecahkan masaah hidup dan kehidupan manusia, sedangkan pendidikan merupakan salah satu dari aspek kehidupan tersebut karena hanya manusialah yang dapat melaksanakan dan menerima pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan memerlukan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan, yang hanya terbatas pada pengalaman. Dalam pendidikan akan muncul masalah - masalah yang lebih luas, lebih dalam, dan lebih kompleks, yang tidak dibatasi oeh pengalaman ataupun fakta faktual, dan tidak memungkinkan untuk dijangkau oeh ilmu.
Seorang guru, baik sebagai pribadi maupun sebagai pelaksana pendidikan, harus mengetahui filsafat dan filsafat pendidikan.seorang guru harus memahami filsafat pendidikan karena tujuan pendidikan selalu berhubungan langsung dengan tujuan kehidupan individu dan masyarakat penyelenggara pendidikan. hubungan antara filsafat dan pendidikan adalah filsafat menelaah realitas dengan luas dan menyeluruh, sesuai dengan karakteristik filsafat yang radikal, sistematis, dan menyeluruh. Konsep tentang dunia dan tujuan hidup manusia yang merupakan hasil dari studi filsafat akan menjadi landasan dalam menyusun tujuan pendidikan. Dengan demikian, bangun sistem pendidikan dan praktik pendidikan akan dilaksanakan berorientasi pada tujuan pendidikan ini. Menurut Brubacher (1950) (Sadulloh, 2003) mengemukakan, hubungan antara filsafat dan filsafat pendidikan bahwa filsafat tidak hanya melahirkan ilmu atau pengetahuan baru, tetapi melahirkan pendidikan. Dengan demikian, filsafat pendidikan harus dapat menjawab pertanyaan pertanyaan mendasar daam pendidikan. Sadulloh merumuskan empat pertanyaan mendasar pendidikan sebagai berikut.
Apakah pendidikan itu
Mengapa manusia harus melaksanakan pendidikan
Apakah seharusnya dicapai dalam proses pendidikan
Dengan cara bagaimana cita – cita pendidikan, baik yang tersurat maupun yang tersirat dapat dicapa
Jawaban atas keempat pertanyaan tersebut sangat bergantung dan ditentukan oeh pandangan hidup dan tujuan hidup manusia, baik secara individu maupun secara bersama-sama (masyarakat atau bangsa). Filsafat pendidikan tidak hanya terbatas pada fakta faktual, tetapi harus sampai pada penyelesaian tuntas tentang baik dan buruk, tentang persyaratan hidup sempurna.  Ini berarti pendidikan adalah pelaksana dari ide-ide filsafat. Dengan kata lain, filsafat memberikan asas kepastian bagi nilai peranan pendidikan dan aktivitas penyelenggaraan pendidikan.
Jadi, peranan filsafat pendidikan merupakan sumber pendorong adanya pendidikan. Dalam bentuk yang lebih terperincian lagi. Filsafat pendidikan menjadi jiwa dan pedoman asasi pendidikan. Pendidikan merupakan usaha untuk  merealisasikan ide-ide  ideal dari filsafat menjadi kenyataan, tindakan, tingkah laku, dan pembentukan kepribadian.

Filsafat Pendidikan Islam
Filsafat pendidikan islam memperbincangkan filsafat tentang pendidikan bercorak Islam yang berisi berbagai perenungan mengenai pendidikan Islam dan usaha usaha pendidikan yang dilaksanakan agar berhasil sesuai dengan hukum-hukum islam. Filsafat pendidikan yang berdasarkan islam adalah pandangan dasar tentang pendidikan yang bersumberkan ajaran islam dan yang orientasi pemikirannya berdasarkan ajaran tersebut. Dengan kata lain, filsafat pendidikan islam adalah suatu analisis atau suatu pemikiran rasional, kritis, sistematis, radikal dan universal untuk memperoleh pengetahuan mengenai hakikat pendidikan islam.
Asy-Syaibany menandaskan bahwa filsafat pendidikan islam harus mengandung unsur – unsur dan syarat – syarat sebagai berikut:
Dalam segara prinsip, kepercayaan, dan kandungannya sesuai dengan roh (spirit) islam.
Berkaitan dengan realitas masyarakat dan kebudayaan serta sistem sosia, ekonomi, dan politiknya.
Bersifat terbuka terhadap segala pengalaman baik (hikmah)
Pembinaanya berdasarkan pengkajian yang mendalam dengan memperhatikan aspek –aspek yang melingkungi.
Bersifat universal dengan standar keimuan.
Selektif, dipiih yang penting dan sesuai dengan roh agama islam.
Bebas dari pertentangan dan persanggahan antara prinsip – prinsip dan kepercayaan yang menjadi dasarnya.
Proses percobaan yang sungguh – sungguh terhadap pemikiran pendidikan yang sehat, mendalam, dan jelas.
Objek kajian filsafat pendidikan islam, menurut Abdul Munir Mulkhan, dibedakan menjadi jenis, yaitu objek material dan objek formal. Obyek material filsafat pendidikan islam adalah bahan dasar yang dikaji dan di analisis, sementara obyek formalnya adalah cara pendekatan atau sudut pandang terhadap bahan dasar tersebut. Dengan demikian obyek material filsafat pendidikan islam adalah segala usaha manusia untuk menciptakan kondisi yang memberi peluang perkembangan kecerdasan, pengetahuan, dan kepribadian manusia melalui pendidikan. Adapun obyek formalnya adalah Aspek khusus usaha manusia secara sadar, yaitu menciptakan kondisi yang memberi peluang pengembangan kecerdasan, pengetahuan, dan kepribadian sehingga manusia memiliki kemampuan untuk menjalani dan menyelesaikan permasalahan hidupnya dengan menempatkan islam sebagai hudan dan furqon. Menurut Arifin filsafat pendidikan islam merupakan ilmu yang ekstensinya masih dalam kondisi permulaan perkembangan sebagai disipin keimuaan pendidikan. Demikian pua sistematikannya, filsafat pendidikan islam masih dalam proses penataan yang akan menjadi penunjuk arah bagi teorisasi pendidikan islam.

Daftar Pustaka
Hamdani, Filsafat Sains, Bandung, Pustaka Setia, 2011
Praja S. Juhaya, Aliran-Aliran Filsafat & Etika, Bandung, Prenada Media, 2003
Efferi Adri, Filsafat Pendidikan Islam, Kudus, Nora Media Enterprise, 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang hebatnya mengaji

Tentang hebatnya mengaji Ilmu Agama laksana air hujan menembus bumi, orang alim yang mengamalkan ilmunya laksana bumi yang subur. Orang yang...